Malam ini, semua berawal

Tepat pukul 21.17 WIB, 19 Januari 2015 aku memulai memakukan pandangan wajahku ke depan komputer yang masih mengernyit-ngernyit baru menyala, seperti orang baru bangun dari tidurnya. aku benar-benar bingung apa yang harus aku lakukan sekarang, sepi ruangan ini benar-benar sepi. Meski ada seorang menemani, namun ruangan ini terlalu sunyi untuk menerima keadaan.
"Hmm.. " ku hembuskan nafas panjang-panjang lalu kuraih hanphone putih kesayanganku. Terpampang diatas wallpapper, tulisan seseorang bernama Dan Poynter "if you wait for INSPIRATION to write you're not a writer, you're a WAITER".
Dan Poynter, sejenak aku berpikir siapa Dan Poynter. Dan ternyata aku memang tidak pernah mengenalnya. Mungkin karena tulisan ini aku download dari Mbah Google, dari kategori yang entah aku lupa. Atau mungkin juga aku memang tidak perlu mengenalnya. Hmm.. pikirku cukuplah tak apa aku tak mengenalnya. Namun, mengapa ini, mengapa tulisannya seolah benar-benar menyindirku saat ini. Aku benar-benar tercambuk, ya benar-benar tertantang.
Mungkin kalian berkata kalau aku benar-benar seorang penulis. Tidak, sama sekali aku bukanlah seorang penulis. Tapi kata-kata ini benar-benar membuatku sadar akan betapa kelirunya aku selama ini.
Apanya yang keliru ??
Ya, hampir semua yang aku kerjakan, terutama dalam hal menulis. Aku bukanlah orang yang pandai menulis, namun aku selalu dituntut untuk menulis. Aku benar-benar ingin menghapus kata-kata yang berbau "tulis" dari seluruh kamus dan sluruh kosakata di dunia ini. Tapi jika itu terjadi, siapa yang akan tahu akan pengetahuan yang luar biasa di dunia ini. Hmm, bila dibayangkan tanpa tuli dan menulis, rasanya aku benar-benar kembali menjadi seekor kera yang loncat sana loncat sini, tak memikirkan apapun kecuali makan dan kawin.
Benar memang, Pramodya Ananta Toer katakan, "MENULIS adalah pekerjaan KEABADIAN". Jadi siapaun yang menulis dan tulisannya diajarkan, disebar luaskan maka ia akan selalu dikenal oleh orang banyak. Toh buktinya sudah jelas antara peradaban dengan tulisan dan peradaban tanpa tulisan, siapa yang lebih terkenal??. Tentu peradaban dengan tulisan, ya siapa juga yang akan tahu kalo peradaban itu tak punya tulisan. Benar-benar logis semua tentang tulisan.
Mungkin banyak yang mengatakan tulisan itu adalah sebagaimana huruf-huruf dirangkai, karakter-karakter disambungkan atau coretan-coretan dengan pola tertentu yang memiliki makna. Namun bagiku bukan hanya itu saja, bahkan coretan dari bekas tangan yang dilumuri tintapun merupakan tulisan. Ya, gambar manusia purba dalam goa-goa pun merupakan tulisan dalam wujud gambar. Mereka tak hanya berdiri begitu saja, ada maksud dan tujuan, ada makna dibalik itu semua. Yang akhirnya dengan tulisan ini akan berhubungan dengan bahasa.
Wahh.. luar biasa, mataku mulai terbuka akan pentingnya menulis, tak perlu menunggu inspirasi, cukup tulis dan tulis teruss. Toh "Quantity Produce Quality", dengan usaha yang keras dan kontinu, aku yakin kita akan makin terbiasa menulis dan akhirnya menjadi semakin peka terhadap tulisan, baik bentuk maupun isinya.
Semakin banyak menulis tentu akan menambah kepekaan kita terhadap gejala sosial. Meskipun tulisa itu fiksi, toh fiksipun perlu inspirasi untuk membuatnya. Dan inspirasi pasti muncul dari kenyataan yang ada.
Sayyid Qutbi mengatakan "Satu peluru mampu menembusi kepala, Namun satu tulisan dapat menembusi ratusan bahkan ribuan kepala". Baik tulisan itu baik, buruk, logis, tidak logis, apa adanya maupun rekayasa pasti memiliki dampak bagi kehidupan. Masalah besar ataupun kecilnya dampak, tergantung kepekaan penulis pada dunia ini.
Untuk itu, aku bertekad untuk menulis mulai malam ini dan seterusnya. Dan untuk teman-teman semua yang membaca blog ini, terakhir saya katakan "MARI MENULIS"
Makasih udah mau baca (^-^)

1 komentar:

 

Flickr Photostream

Twitter Updates

Meet The Author